Rabu, 15 Mei 2019

Pandangan Generasi Z Tentang Dunia Polititk


Penelitian yang dilakukan EACEA (2013) terhadap generasi muda di tujuh negara Eropa menghasilkan kesimpulan generasi muda yang dapat menyarankan preferensi dan minat mereka terhadap politik.

Partisipasi politik melalui internet dan media sosial misalnya. Tindakan politik generasi muda masa kini memiliki sifat lebih khusus, bersifat spontan (ad-hoc), berdasarkan isu tertentu dan kurang terkait dengan perbedaan sosial. Hal ini terjadi akibat globalisasi dan individualisme serta konsumsi dan kompetisi. Masyarakat di negara dapat membantah dalam kehidupan politik, lebih dari tiga cara berbeda. 

Pertama, masyarakat dapat terlibat dalam arena publik untuk meminta dan mengembalikannya kepada siapa saja yang ingin mendengarkan, seperti ikut serta dalam berdemonstrasi. Kedua, masyarakat dapat membuat lembaga pembuat undang-undang (legislatif) atau lembaga eksekutif sebagai target pesan politik yang ingin disampaikan, misalnya menyetujui petisi. 

Ketiga, masyarakat dapat terlibat dalam proses seleksi dari orang-orang yang ingin mendapat jabatan publik. Contohnya dengan memberikan suara pada pemilihan atau mencalonkan diri untuk jabatan publik. Studi terhadap pengguna media sosial di Indonesia masih sangat terbatas dan studi lebih lanjut masih sangat dibutuhkan untuk menjelaskan sifat dan karakteristik pengguna media sosial yang jumlahnya sangat besar dewasa ini. 


Di samping itu, generasi milenial diharapkan mampu membawa dinamika politik yang sehat dan dinamis. Tahun 2019 merupakan momentum politik yang memerlukan peran generasi yang cakap, tanggap, kreatif, dan advokatif. Langkah-langkah strategis generasi milenial dalam mengisi pesta demokrasi dapat dilakukan dengan beragam cara, misalnya mendorong gerakan antigolput atau kampanye hashtag yang positif demi pemilu berkualitas. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar